Senin, 07 Desember 2015

Mami Ana Inspirasiku

hari ini di Facebook aku melihat postingan mami ku, tidak terasa aku meneteskan air mata.

mami ana (Yohana biasa kami pangil mami ana) adalah adek dari mama kandungku, mereka 10 bersaudara dan mamaku anak ke 4 mami ana anak ke 6.

hari ini mami ana posting foto foto wisuda adek adek sepupuku, melihat sukacita mereka aku menitihkan air mata, bagaimana tidak aku sempat ingal bersama mami ana sekitar 4 tahun sejak aku bekerja di salah satu perusahaan suasta di kota Padang.

aku tinggal dengan mereka sejak adek adek sepupuku masih SD, mami anak adalah salah satu pinpinan unit di perusahan dimana aku bekerja. dan kebetulan di juga adalah atasan ku secara langsung.

mami ana orang yg sangat perfeksionis, orang yang sangat tegas, orang yang sangat bertanggung jawab dalam pekerjaannya, dan orang yang sangat jujur.

dia memegang peranan penting di perusahaan semua vendor yang masuk ke perusahaan harus seijin di, sehingga banyak sekali vendor yang mencoba menyogok mami ana, tpi beliau tidak pernah sekali pun tergiur dengan segala sogokan itu. dia tetap kukuh dengan pendiriannya, karena dia tidak pernah mau di ukur dari sogokan sogokan tersebut dan banyak alasan lainnya kenapa mami sampai tidak pernah sekali pun tembus atau jebol dari perthannannya, padahal bisa saja dia terima sogokan tanpa diketahui oleh pinpinan.

dia orang hebat dipekerjaan, pada saat aku tinggal di padang bersama mami, mami sudah mendirita diabetes sehingga dia harus sering kontrol dan tidak boleh mengkonsumsi gula.

tetapi selain kehebatan mami, aku juga merasa cukup mendirita dan terceking tinggal sama mami, di kantor dia adalah atasanku yang hampir setiap hari aku kena marah dan maki, ngak masalah tulisan lah, nga masalah lapran lah, nga masalah penjualan lah dan banyak lagi. dirumah juga seperti itu, ada saja masalah yg membuat aku kena marah.

dirumah aku bertanggung jawab untuk kebersihan rumah, cuci piring, cuci baju, seterika dan lainnya. hampir tidak ada waktu untuk dirisendiri.

tapi karena dari kecil aku sudah terbiasa dengan kerja keras aku tidak terlalu terkejut untuk kondisi ini .

tetapi aku tau mami sangat menyangi aku dia tidak mau aku menjadi orang yang tidak bisa apa apa. hatinnya sangat baik dan tulus. dia tidak pernah melihat latar belakang orang jika ingin menolong,  sekali pun keras dia memiliki hati yang tulus dan murni.

dilah orang yang mengajai aku bagaimana menabung dari gaji ku sihingga aku bisa memiliki tabungan, memiliki perhiasan dan lainnya. sehingga sampai sekarang pun aku bisa terus menabung.

mami mendidik anak anaknnya Takut akan Tuhan, mendi keluarga yang bigitu mencintai Tuhan, pagi pagi jam 6 mereka sekeluarga pasti sudah saat teduh, dan itu rutin sehingga keluarga mami sangat diberkati oleh Tuhan, aku sampai sekarang blm bisa mengikuti jejak mami masih jauh ketingalan.

sekarang mami tinggal di jokja sikap dan keperibadiannya sangat jauh berbeda sejak dia mengikuti pelayanan di salah satu lembaga aku kurang ingat nama lembagannya papa.

mami menjadi orang yang sabar, baik hati, ceria dan penuh belas kasih, dia mengantar anak anaknya menjadi orang orang yang sukses kedua anak nnya lulus dengan nilai yang sangat memuasakan dan keduannya kini menjadi Dokter.

satuhal yang tidak penah mami lupakan adalah perpuluhan, setiap penghasilannya 1/10 pasti dia masukkan ke gereja dan itu sumber berkat yang sering tidak kita bayangkan tetapi terjadi.

dia salalu berusaha mengumpulkan kami anak nak nya untuk bisa berbahagia bersama sama.

itulah mami ada yang Hebat. dan luarbiasa Tuhan menjaga, memberkati dan melindungi keluarga ini.
Tuhan yesus dimuliakan lewat keluarga mami Ana.

aku mendidik Evelyn anaku bercermin kepada mami ana, tetapi aku sering takut apa aku bisa mendidik anak ku dan mengantarkan anaku menadi sukses seperti mami ana ? tpi aku bersukur karena mami ana adalah inspirasiku.

termakasih mami LOVE YOU and GBU

Masa Kecil Ku

sekarang aku merasakan menjadi seorang ibu bukan hal yang gampang, di kantor aku bisa menjadi pinpinan yang baik untuk karywanku tetapi dirumah aku belum menjadi orang tua yang hebat.

rasa takut sering sekali menghingapi pikiranku, aku takut aku tidak bisa menjadi istri yang hebat untuk suamiku, aku takut tidak bisa menjadi ibu yang hebat untuk anak anak ku.

aku bukan orang yang berpendidikan tinggi, aku juga bukan dari latar belakang keluarga kaya, aku hanya anak seorang petani, tetapi aku sangat bersyukur dilahirkan dan dibesarkan oleh kedua orangtuaku.

sebagai anak dulunnya aku sering merasa iri dengan teman temanku yang memiliki waktu bermain yang banyak sedangkan aku tidak ada waktu bermain.

sejak kecil aku sudah dididik menjadi orang yang kuat, pekerja keras dan tahan banting.

gimana tidak kami 5 bersaudara semuannya sekolah sedangkan mama sama papa hanya berpropesi sebagai petani. untuk itu kami semua harus bahu membahu.

sejak SD saya sudah harus bisa masak, cuci piring bahkan membantu kedua orangtua keladang. tanggung jawab saya adalah cucipiring dan jualan di pasar.

pulang dari sekolah saya sudah harus pergi keladang, dengan seragam sekolah sepatu di jinjing di pundak agar sepatu tidak cepat rusak (maklum ganti sepatu 2 tahun sekali itu pun kalo ada uang) tanpa alas kaki berjalan menyusuri sawah, melewati sungai untuk sampai ke sawah tempat orang tuaku bekerja, kerikil tajam, duri, ranting tidak jarang menusuk kakiku sampai luka tpi karena sudah sering berjalan luka di kaki sudah tidak terasa sakit lagi telapak kaki ku yang masih sangat tipis sudah menebal, tumit pun pecah pecah, panasnnya jalan tidak terasa lagi.

 sesampainnya di ladang saya biasannya makan seadannya, setelah itu langsung cari sayuran di ladang dan di sawah untuk aku jual nntinnya di pasar sore namnnya kesen mbelang.

sewaktu aku SD sampai aku SMP kesekolah tidak penah naik angkutan tetapi selalu jalan kaki, jarak dari rumah ke sekolahku itu kalo jalan kaki sekitar 1 jam itu aku lalui bertahun tahun tidak jarang aku terlambat kesekolah karena harus berjalan kaki.

pagi pagi sebelum berangkat sekolah aku harus masak terlebih dahulu, cuci piring baru berangkat sekolah, aku sekolah tanpa uang saku, karena aku ingin sekolah.

pulang sekolah seperti ceritaku dari awal aku keladang, dari ladang aku bawa sayuran, cabi dan lainnya untuk aku jual di pasar seore, aku biasannya pulang dari ladang jam 4 sere dan pulang dgn cepat ke rumah agar tidak terlambat ke pasar sore, karena kalo sudah terlalu sore takut tidak dapat tempat dan tidak ada yang belanja lagi.


tetapi aku bersyukur untuk masa kecil yang hebat ini, karena itu lah aku bisa menjadi seperti sekarang ini.